Keunggulan Geopark di Kabupaten Berau Dalam Bidang Warisan Geologis, Pariwisata Berbasis Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Kepala Disbudpar
Berau Yudha Budisantosa.
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Proses verifikasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menuju status Geopark Nasional, Kabupaten Berau dinilai memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada kekayaan warisan geologi, tetapi juga pada keberhasilan mengembangkan pariwisata berbasis konservasi serta pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan secara nyata.
Keunggulan tersebut
menjadi modal penting dalam proses penilaian tim verifikator Geopark Nasional.
Bahkan, dari seluruh indikator yang diperiksa, aspek geologi di wilayah Berau
dinilai cukup baik.
Kepala Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan
karakteristik Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Berau memiliki keunikan yang
berbeda dibandingkan wilayah Kutai Timur. Jika Kutai Timur dikenal dengan
bentang alam karst dan goa, maka Berau memiliki kekuatan pada kawasan pesisir,
pulau-pulau kecil, serta destinasi wisata bahari yang telah berkembang menjadi
penggerak ekonomi masyarakat.
"Bila di Kutim
mungkin lebih kuat di kawasan karst dan guanya. Sementara Berau memiliki
kekuatan di pesisir dan kepulauan. Pengembangan ekonomi melalui sektor
pariwisata di geosite-geosite kita juga sudah jauh lebih berkembang," ujar
Yudha kemarin dikantornya.
Ia menjelaskan,
Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki 26 geosite yang tersebar di 2ua Kabupaten,
yakni 15 geosite berada di Kabupaten Berau dan 11 geosite berada di Kabupaten
Kutai Timur. Namun, selama proses verifikasi, tim penilai tidak dapat
mengunjungi seluruh lokasi karena keterbatasan waktu. Karena itu kualitas
dokumen, data pendukung, serta bukti implementasi di lapangan menjadi faktor
penting dalam proses penilaian.
Menurut Yudha,
pembahasan bersama tim verifikator berlangsung cukup mendalam. Sejumlah dokumen
masih perlu diperbaiki, diperbarui, dan disesuaikan dengan indikator Geopark
Nasional, khususnya yang berkaitan dengan aspek budaya, ekonomi kreatif,
pendidikan, penelitian, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan geopark.
"Yang perlu kita
perkuat sekarang tinggal dokumen dan data dukungnya. Masih ada yang kurang
lengkap dan belum sesuai sehingga diminta untuk dilengkapi. Kami diberi waktu
satu bulan dan optimistis seluruh kekurangan itu bisa diselesaikan," katanya.
Ia menegaskan, dari
sisi geologi maupun geodiversity, Berau tidak lagi menjadi persoalan.
Keberadaan kawasan karst, bentang alam, hingga kawasan hutan lindung dinilai
telah memenuhi standar sebagai bagian dari kawasan geopark yang memiliki nilai
konservasi tinggi.
Karena itu,
pemerintah daerah kini memusatkan perhatian pada penguatan indikator
non-geologi. Mulai dari pelestarian budaya lokal, pengembangan ekonomi
masyarakat berbasis wisata, kegiatan edukasi, penelitian, hingga tata kelola
kawasan yang berkelanjutan menjadi fokus utama untuk melengkapi seluruh
persyaratan.
"Geologinya
sudah tidak diragukan lagi. Yang kita perkuat sekarang adalah sisi budaya dan
ekonomi," tegasnya.
Selain aspek
administrasi, kesiapan Berau sebagai pintu gerbang Geopark
Sangkulirang-Mangkalihat juga terus diperkuat melalui pembangunan infrastruktur
penunjang. Akses dari Bandara Kalimarau menuju sejumlah geosite kini semakin
mudah dijangkau sehingga mendukung aktivitas wisata maupun penelitian di
kawasan tersebut.
Salah satu lokasi
yang mendapat apresiasi dari tim verifikator adalah destinasi wisata Labuan
Cermin di Kampung Bidukbiduk. Destinasi yang terkenal dengan fenomena dua rasa
air itu dinilai berhasil menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan yang
melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurut Yudha,
pengelola Labuan Cermin telah menerapkan sistem pengelolaan sampah secara
disiplin. Seluruh sampah yang dihasilkan wisatawan dikumpulkan setiap hari
setelah jam operasional berakhir, kemudian dipilah dan dikelola menggunakan
prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
"Labuan Cermin benar-benar bersih, sampah bekas makanan dan minuman langsung diangkut dan dikelola pada hari yang sama. Itu sudah kami lihat langsung saat verifikasi. Kami berharap pola seperti ini bisa menjadi contoh bagi seluruh destinasi wisata di Berau," ungkapnya.
Yudha optimistis
seluruh catatan dari tim verifikator dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan.
Ia berharap Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dapat segera ditetapkan sebagai
Geopark Nasional sehingga semakin memperkuat posisi Berau sebagai daerah tujuan
wisata berbasis konservasi, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi
peningkatan ekonomi masyarakat dan promosi potensi daerah di tingkat nasional
maupun internasional. (sep/FN)